Balada Mencari Asisten Rumah Tangga

00:01 utheychan 0 Comments

Ernest Prakasa, comic favorit saya pernah menjadikan topik susahnya mencari pembantu sebagai materi stand up dia. Dia punya teori gimana kurva demand dan supply pembantu udah ga wajar, melebihi busa transfer Liga Inggris. Well, mungkin lebay tapi itulah yang terjadi. Sebelum menikah saya punya idealisme tidak mau menyerahkan pengasuhan anak saya ke orang lain, kalaupun terpaksa paling ke ibu atau ibu mertua. Tapi seperti kebanyakan para ibu bekerja lainnya, idealisme ini tinggal kenangan. Saya ga mau bahas tentang alasan saya tetap bekerja instead of membesarkan anak sendiri full di rumah karena pastinya akan berujung pada debat stay at home vs working mom oleh para ibu-ibu di dunia persilatan. But, as you read this post I just want you to know that I am a working mother who dying to be a stay at home mother. I look at my friends who raise their children without any help from babysitter atau pembantu, and I do feel envy. But, don't get me wrong, I am also proud of my circumtances of being a working mom. As long as my husband still taking his side on me.

Oh.great. I've already explained.

So, kembali ke topik. Kerja ataupun stay di rumah, ibu-ibu yang masih menggantungkan nasib jemuran dan kebersihan toilet rumah kepada seorang pembantu pasti setuju sama Ernest. Pengalaman saya sendiri cari pembantu (dan sekaligus buat jagain anak selama saya bekerja) baru dua kali. Dan saya harap cukup dua kali saja.

Selama tiga bulan cuti melahirkan, saya benar-benar menikmati mengurus Rion sendiri. Jauh dari orang tua maupun mertua, membuat saya fokus belajar jadi ibu baru. Banyak pertanyaan dan kesalahan tentunya, tapi thanks God temen2 di kantor yg sdh lebih wahid soal motherhood terus memberi semangat. Belum lagi ibu mertua saya yang berprofesi bidan. 

Ketika cuti 3 bulan hampir berakhir, saya dan suami pun mulai pusing mencari penjaga bayi. Seminggu sebelum masuk kerja saya masih blm dapet 'embak' padahal saya perlu training dia, supervisi sebelum saya tinggalin anak sendirian di rumah bersama orang tak dikenal. Akhirnya, H-1 kerja secara ajaib saya dapat penjaga bayi yang mau harian, pagi sampai sore saya pulang kerja. Dia cuma disupervisi ibu saya seminggu, habis itu cukup deg-degan juga ninggalin anak seharian sama dia. Untungnya kantor ga terlalu jauh jadi bisa pulang setiap siang, dan ada tetangga yang baik hati mau bantu mengawasi kerjanya si embak. Sayangnya 5 bulan berlalu dan tiba2 dia ga datang ke rumah lagi alias resign. Ga ada track record mencurigakan sih selama kerja, tapi saya yang panik karena ga mungkin dapat gantinya dengan cepat sedangkan di rumah ga ada yang jagain Rion. 

Bersyukurnya ibu mertua beberapa bulan sebelumnya menawarkan embaknya, mbak Kus yang dulu menjaga adik ipar saya yang jaraknya 14 tahun sama suami. Jadi kurang lebih mbak Kus ini sudah kerja hampir 13 tahun. (pertanyaan Matematika dasar: jadi berapakah usia suami saya? 😂 )

Alasannya karena adik ipar udah mau masuk SMP dan jasanya udah ga diperlukan. Mau nangis rasanya pas telpon minta mbak Kus ke Cikarang buat jagain Rion sementara belum dapat embak pengganti. Singkat cerita, mbak Kus tinggal bersama kami selama kurang lebih 6 bulan, dan selama itulah saya belajar banyak bagaimana kita bisa punya hubungan yang baik dengan orang yang bekerja di rumah kita. Mbak Kus juga banyak mengajari saya tentang banyak hal. Saya kagum tentang loyalitas dia sama ibu mertua saya, di saat banyak orang tanya sama dia 'kok betah sih mbak' (don't ask me why😂😠). Saya juga takjub gimana dia begitu sayang sama anak2 ibu mertua saya, sampai mereka menganggapnya kakak tertua, termasuk suami saya. Dan secara tidak langsung, saya jadi seperti belajar banyak langsung dari ibu mertua saya lewat mbak Kus. 

Selama beberapa tahun terakhir dia dikursusin sama mertua saya supaya bisa mandiri. Pertama kursus jahit, tapi ga suka lalu pindah kursus salon. Nah disinilah mbak Kus menemukan passionnya dan nenjadikannya peluang bisnis. Hasil salon kelilingannya udah melebihi penghasilan dari kerja sama ibu mertua. 

Selang beberapa bulan mbak Kus jagain Rion, akhirnya kami ketemu dengan mbak Yani, dmbak yang jaga Rion sampai tulisan ini dibuat yaitu sekitar 15 bulan. Is she the one we're looking for?

Hope so.

Sejauh ini anaknya rajin banget dan yang paling penting, Rion mau dijagain sama dia. Bahkan kadang-kadang saya takjub bagaimana gadis lulusan SD ini bisa dengan mudah menerima nilai-nilai parenting yang kadang-kadang ibu-ibu lainnya (tetangga di kompleks misalnya) belum bisa terima. Contoh, tentang program TV. Kebanyakan orangtua ga sadae kalau program Adit dan Sopo Jarwo itu ga oke buat anak-anak seumur Rion. Begitu saya share *ceileh istilahnya* ke mbak Yani, dia setuju dan bilang "Iya, itu jelek. Bagusan Upin Ipin. Tapi anak-anak jadi ngomongnya Malaysia semua ya bu.."

Dia peduli dengan apa yang ditonton sama Rion. Kalo udah waktunya kartun ga bagus itu main, dia matiin tv kalau ga cari di tv sebelah yg kartunnya lebih ok. 

Saya dan suami klo lagi ngobrolin tentang embak kami ini, suka nyeletuk 'semoga mbak Yani betah dan jadi keluarga baru kayak mbak Kus ya'

Kuncinya satu kalau kata ibu mertua saya. 'uwongke' atau manusiakanlah asisten rumah tangga.

0 comments :